DBAsia News

Simak Analisa Performa Indonesia di SEA Games 2019

DBasia.news –  Hujan yang menghiasi Istana Kepresidenan Bogor pada Rabu (27/11) tidak menghalangi Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, melepas kontingen untuk SEA Games 2019. Saat itu, Presiden Jokowi memberikan wejangan bagi atlet yang akan berlaga.

Didampingi Mensesneg Pratikno dan Menpora Zainuddin Amali, Presiden Jokowi menyemangati kontingen Indonesia untuk SEA Games 2019. Ketika melepas atlet yang akan berlaga, Jokowi menyebut target untuk kontingen Indonesia.

“Kalau bisa 60 medali emas dan meraih peringkat dua besar. Karena di Asian Games 2018 kita (Indonesia) bisa finis urutan empat,” ujar Presiden Jokowi ketika itu.

Tidak terasa sudah dua pekan sejak pidato Presiden Jokowi melepas kontingen Indonesia untuk SEA Games 2019. Ajang dua tahunan tersebut pun sudah selesai.

Lantas, apakah target yang dicanangkan Presiden Jokowi untuk kontingen Indonesia di SEA Games 2019 sudah terpenuhi? Jawabannya adalah iya dan tidak.

Tergantung dari sisi mana Anda melihat pencapaian kontingen Indonesia di SEA Games 2019. Kalau hanya dari segi perolehan medali emas, permintaan Presiden Jokowi sudah terpenuhi.

Meski demikian, apabila menilik target dua besar SEA Games 2019, rasanya jauh panggang dari api. Bagaimana tidak, Indonesia hanya menempati peringkat keempat, hanya naik satu posisi dari dua tahun silam.

Secara keseluruhan, kontingen Indonesia mengoleksi 266 medali SEA Games 2019. Sayangnya, dari jumlah tersebut, hanya 72 di antaranya yang merupakan medali emas.

Mayoritas medali SEA Games 2019 yang diterima Indonesia adalah perunggu, dengan total 110 medali. Sementara itu, 84 sisanya merupakan medali perak.

Di sinilah terdapat keanehan, bagaimana mungkin target emas SEA Games 2019 terpenuhi, tetapi gagal menjadi dua besar? Kemungkinannya hanya satu, yakni terjadi salah perhitungan sejak awal.

Berdasarkan pengakuan CdM Indonesia di SEA Games 2019, Harry Warganegara, terdapat setidaknya 28 persen potensi medali emas yang lepas dari target awal. Beruntung, terdapat sejumlah cabor yang mampu melampaui ekspektasi.

Sejak awal, target dua besar SEA Games 2019 memang kurang masuk di akal. Bukan tanpa alasan, sejumlah atlet senior Indonesia tidak bermain pada ajang tersebut.

Apalagi dengan kebijakan Menpora yang mengedepankan pemain muda di SEA Games 2019. Bisa dibilang, pesta olahraga terbesar di Asia Tenggara itu seharusnya bukan menjadi ajang mengumpulkan medali.

Kawah candradimuka bagi atlet muda terasa sebagai kata yang lebih tepat untuk SEA Games 2019. Artinya, sepantasnya target sejati dari ajang tersebut adalah guna memberikan pengalaman bagi para atlet muda.

Lantas, menilik dari berbagai faktor di atas, bagaimana kiprah Indonesia di SEA Games 2019? Ada beberapa yang mungkin menganggap kegagalan meraih dua besar tidak memenuhi target.

Akan tetapi, apabila menilik dari 28 persen potensi emas yang gagal diraih dan adanya sejumlah cabor yang di luar ekspektasi meraih medali emas, seharusnya pencapaian di SEA Games 2019 sudah lebih dari cukup.

Apalagi ditambah mayoritas atlet yang bertanding belum memiliki pengalaman layaknya mereka yang tampil di Asian Games 2018 silam. Artinya, Indonesia justru mendapatkan lebih dari sekadar yang ditargetkan pada SEA Games 2019 ini.

Memang target dua besar SEA Games 2019 tidak tercapai. Namun, kalau dilihat lebih jauh, dengan materi mayoritas atlet muda dan bisa melampaui target 60 medali emas yang diberikan Presiden Jokowi, bukankah sudah lebih dari cukup?

Pada akhirnya, target sejati yang diberikan oleh Presiden Jokowi adalah 60 medali emas dan itu tercapai. Mengenai dua besar SEA Games 2019, tentunya Presiden Jokowi tentu tidak ingin sekadar mematok target empat atau lima besar untuk Indonesia.

Menjelang Olimpiade 2020 nanti, dengan materi mayoritas pemain muda di SEA Games 2019 ditambah pemain yang lebih berpengalaman, tentu bukan tidak mungkin Indonesia memiliki peluang meraih prestasi setinggi mungkin.

Jadi, sudahkah Indonesia memenuhi target di SEA Games 2019? Jawabannya kembali lagi, apakah Anda melihat dari sisi perkembangan atlet, atau sekadar gengsi.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?