DBAsia News

Rekam Jejak Balap Rio Haryanto

Rio Haryanto

DBasia.news – Rio Haryanto memang sudah tidak aktif mengikuti lomba. Namun tidak bisa dimungkiri, anak dari pasangan Sinyo Haryanto dan Indah Pennywati ini merupakan salah satu pembalap formula terbaik asal Indonesia.

Layaknya pembalap yang meniti karier di formula, Rio juga memulai dari gokar. Pada tahun 2008, ia akhirnya mengikuti event balap formula. Catatannya ia menempati posisi tiga klasemen akhir Formula Asia 2.0.

Satu tahun berikutnya, ia memutuskan mengikuti Formula BMW Pacific. Memperkuat Questnet Team Qi-Meritus, ia memperoleh 11 kemenangan dari total 15 lomba dan keluar sebagai juara umum.

Berkat sukses ajang inilah, Rio berani naik kelas ke level dunia dengan mengikuti GP3 tahun 2010. Berstatus rookie, di luar dugaan, ia bisa merasakan satu kemenangan di Istanbul, Turki.

Total ia juga naik podium dua kali berkat finis posisi dua di Silverstone, Inggris dan podium tiga di Monza, Italia. Rio pun mengakhiri GP3 2010 di posisi lima klasemen.

Di tahun yang sama, Rio juga untuk kali pertama mendapatkan kesempatan mencoba mobil tim Formula 1 (F1) milik Marussia Virgin Racing.

Musim 2011, Rio kembali turun di GP3. Kali ini jumlah kemenangannya bertambah menjadi dua kali. Tapi ia mengakhiri kompetisi di urutan tujuh klasemen. Pengalaman dua tahun di GP3 dinilai sudah cukup. Sehingga ia naik kelas ke GP2 (sekarang bernama Formula 2) mulai tahun 2012.

 

Rio Haryanto


Debutnya di GP2 tidak berjalan begitu positif. Terbukti ia baru merasakan podium pertama jusrtu di musim 2013. Dia finis kedua pada sprint race di Sirkuit Silverstone, Inggris.

Puncak karier Rio pada ajang GP2 terjadi musim 2015. Gabung tim Campos Racing, ia sukses bersaing menjadi juara umum. Total ia mengemas tiga kemenangan dan dua kali naik podium dua.

Hasilnya Rio berada di posisi lima klasemen. Performa apiknya di GP2 2015, membuatnya mendapat tawaran dari Manor Racing untuk naik kelas ke kasta tertinggi balapan formula: F1.

Namun semua tahu, tampil di F1 tidak gratis. Rio pun dipatok untuk membayar 15 juta euro oleh tim Manor. Berkat bantuan dari sponsor yang setia mendukungnya sejak awal karier, Pertamina dan usaha manajemen sendiri, Rio akhirnya dikontrak oleh Manor untuk F1 2016.

Lomba GP Australia 2016 tanggal 20 Maret, Rio masuk buku sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang bisa tampil di F1. Namun lantaran hanya membela tim papan bawah, prestasi terbaiknya hanya posisi 15 GP Monako.

Kemudian ujian datang di pertengahan musim. Manor menagih manajemen Rio untuk melunasi total 15 juta euro yang diminta tim awal musim dan baru bisa dibayar manajemen setengahnya.

Beragam usaha telah dicoba. Dari ‘mengemis’ ke pemerintah sampai menyodorkan proposal ke banyak sponsor, namun akhirnya manajemen Rio menyerah. Manor pun mengumumkan pada putaran ke-13, GP Belgia, posisi Rio digantikan oleh Esteban Ocon.

Meskipun kariernya berakhir tidak positif di F1, sampai kini, Rio layak menyandang status sebagai salah satu pembalap terbaik formula asal Indonesia. Pada usia yang terbilang masih muda, 25 tahun, begitu banyak harapan agar sang pembalap bisa berkarier lagi di kancah internasional. Semoga…

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?