DBAsia News

Panas di Dalam Garasi Tim Scuderia Ferrari pada Lomba GP Rusia

DBasia.news –  Pada lomba putaran ke-16 Formula 1 (F1) 2019 di Sirkuit Sochi, Rusia, Minggu (29/09), tim Scuderia Ferrari mengalami kesialan.

Bagaimana tidak, tiga lomba sebelum GP Rusia, Charles Leclerc dan Sebastian Vettel masing-masing merasakan podium pertama sebanyak dua kali dan sekali.

Namun di GP Rusia, asa mengulang raihan GP Singapura, di mana Vettel-Leclerc finis 1-2 gagal total. Sempat menempati urutan 1-2, Vettel akhirnya gagal finis karena mobilnya terkendala teknis.

Leclerc cukup beruntung masih bisa naik podium ketiga dengan selisih 5,212 detik dari pembalap Mercedes, Lewis Hamilton.

Hanya saja strategi Ferrari pada awal lomba GP Rusia memantik kontroversi dan berpotensi membakar api perseteruan Leclerc dan Vettel yang sudah panas sejak GP Singapura.

Adalah strategi team orders. Prinsipal Ferrari, Mattia Binotto menceritakan memang ada kesepakatan antara Leclerc dan Vettel untuk saling bertukar posisi usai start.

Faktanya, Leclerc yang start sebagai pole position, langsung diasapi Vettel, start urutan tiga, dengan memanfaatkan slipstream.

Tapi setelah berada di urutan pertama, Vettel enggan menjalani kesepakatan team orders tim, yaitu memberikan posisinya kepada Leclerc.

Posisi keduanya baru bertukar usai periode pitstop, tapi terlambat lantaran Hamilton mulai membuka gap lebar sebagai pimpinan lomba.

Hal ini membuat Leclerc kecewa. Dalam komentarnya usai lomba, ia enggan semakin memanaskan suasana, meski tetap menyindir Vettel.

“Kami harus mempercayai satu sama lain, Seb dan saya. Karena saya pikir ini sangat penting untuk keuntungan tim pada beberapa situasi,” kata Leclerc. “Namun kini saya masih tetap mempercayainya,” tambahnya.

Ditanya soal sikapnya yang tidak menjalani kesepakatan yang dibuat bersama tim, Vettel menegaskan ada detail yang mungkin ia lupakan.

“Kami memiliki kesepakatan, saya bicara dengan Charles sebelum lomba dan saya pikir situasinya jelas. Tapi mungkin saya melewatkan sesuatu,” Vettel menerangkan.

Kesimpulannya, alih-alih membuat strategi untuk mengalahkan Hamilton dan Mercedes, Ferrari justru sudah jatuh tertimpa tangga.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?