Sri Sugiyanti/Ni’mal Magfiroh Sumbangkan Medali Perak di ATC 2019

Sri Sugiyanti dan Ni'mal Magfiroh

DBasia.news – Pasangan Sri Sugiyanti/Ni’mal Magfiroh kembali menyumbangkan medali perak bagi Indonesia dan kali ini dari nomor 1 km Time Trial Paracycling B putri di Asian Track Championship (ATC) 2019, Jakarta, Sabtu.

Sri dan Ni’mal menjadi yang tercepat kedua di babak final dengan waktu 1 menit 17,718 detik untuk mengamankan medali perak.

Catatan waktu mereka selisih sekitar satu detik dengan pasangan asal Malaysia Nurul Suhada Zainal/ Nur Azilia Syafinas Mohd Zais yang menjuarai nomor tersebut dengan waktu 1 menit 16, 178 detik.

Sementara itu, medali perunggu di raih pasangan tandem Malaysia lainnya, Nur Syahida Tajudin/ Noraidillina Adilla J.Sam (1:20,052).

“Alhamdulillah masih bisa pertahankan waktu seperti di Asian Para Games kemarin,” kata Sri usai perlombaan.

Pasangan tandem yang baru berlatih bersama April tahun lalu itu mengakui kendala di kejuaraan ini adalah mereka masih berusaha menemukan ritme yang pas ketika balapan.

Sri yang mengedarai sepeda di belakang Ni’mal, sebagai pilot, sering keteteran ketika mengayuh sepeda mengimbangi kayuhan sang pilot.

“Saya ingin latihan aja untuk memperbaiki semua. Susah untuk menyingkronkan, untuk menyesuaikan putaran itu susah, masih keberantan,” aku Sri.

 

Sri Sugiyanti dan Ni’mal Magfiroh


Sebelumnya pada Jumat (11/1), Ni’mal dan Sri juga merebut medali perak dari nomor 3.000 meter pursuit individu B putri di ATC 2019 yang digelar di Jakarta International Velodrome itu.

Kemudian pada Kamis (10/1), mereka meraih medali perunggu nomor tandem sprint putri B.

Pelatih NPC Paracycling Indonesia Fadilah Umar melihat anak asuhannya tampak lebih percaya diri ketika di APG dibandingkan di kejuaraan tingkat Asia tahun ini karena latihan sempat terhenti dua bulan paska APG.

Setelah masa libur, Sri dan Ni’mal berlatih selama hanya tiga minggu sebelum turun di ATC 2019.

“Karena setelah kemarin jeda itu jadi kita hanya pulihkan kondisi di awal saja, walaupun bisa mereka merasa sedikit dipaksakan,” kata Umar.