DBAsia News

PB PABBSI Harus Perhatikan Atlet Junior

Eko Yuli


DBasia.news –  Atlet angkat besi Indonesia Eko Yuli Irawan mendorong Pengurus Besar Persatuan Angkatan Besi, Berat dan Binaraga Seluruh Indonesia (PB PABBSI) memperhatikan serius atlet junior sebagai langkah regenerasi atlet.

“Kita harap dari sekarang yang junior ini dipelatnaskan sampai Asian Games 2022, jadi tiga tahun ke depan bisa terbentuk.” ungkap Eko Yuli pada acara berbagi kiat olahraga di GOR Bulungan, Jakarta, Sabtu.

Kondisinya sekarang, menurut Eko, atlet senior dan junior digabung di bawah SK yang sama untuk Pelatnas sehingga ada pemangkasan dana untuk atlet senior.

Terdapat empat atlet senior; Eko Yuli, Deni, Triyatno dan Surahmat, dan sekitar delapan lifter junior untuk pelatnas SEA Games 2019.

“Namun yang bisa ikut sparring dengan senior baru dua atau tiga orang, sisanya masih di bawah. Nah ini yang masih diperlukan pembinaan jangka panjang.”

Pada nomor 62 kg, belum ada yang total angkatannya mendekati peraih medali perak Olimpiade Rio 2016 itu. Begitu juga dengan total angkatan atlet senior lainnya.

“Kita kan total sekitar 310 kg, mereka masih 280-an. Hampir 30 kg jauhnya,” kata pemegang rekor dunia clean and jerk dengan total angkatan 317 kg itu.

Pembinaan atlet junior itu juga dimaksudkan untuk menyiapkan pelapis bagi atlet senior.

“Makanya sekarang kalau mau risikonya pemerintah mengeluarkan anggaran yang lebih besar, ibaratnya pelatnas nomor yang dipertandingkan 100 kalau semua nomor. Bisa tidak disiapkan 300 persen untuk tiga lapis?”

Lapis pertama untuk atlet senior, kemudian lapis kedua bisa dari senior dan junior. Sedangkan lapis ketiga terdiri dari atlet junior bisa remaja.

Pada SEA Games 2019, pemerintah menargetkan empat medali emas dari angkat besi dan PB PABBSI masih melakukan seleksi untuk event se-Asia Tenggara itu.

“Kalau junior emang bisa kalahkan senior dia akan berangkat. Tapi intinya tim terbaik yang berangkat.”

“Dua, tiga tahun ke depan pasti pelapisnya muncul, tapi kalau tiba-tiba tahun ini SEA Games harus pelapis yang berangkat, saya rasa belum sanggup…Mungkin setelah 2020 ini hilang semua seniornya. Kalau kita hilang semua siapa yang akan menggantikan tradisi medali?” pungkas Eko.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?