DBASIA Network

Olimpiade Tokyo 2020: Pesta Olahraga untuk Mereka yang Tersisih

DBasia.news – Pesta olahraga terbesar di dunia, Olimpiade lagi-lagi membuat gebrakan. Olimpiade yang digelar di Tokyo kali ini akan kembali menghadirkan tim yang terdiri dari atlet pengungsi setelah sebelumnya melakukan debut di Olimpiade 2016.

Bagi setiap atlet, berpentas dalam Olimpiade sudah menjadi hal yang diidam-idamkan mereka. Dapat meraih kemenangan dan juga keberhasilan dalam Olimpiade menjadi prestasi paling membanggakan bagi para atlet tersebut.

Namun, bagaimana dengan atlet-atlet yang berasal dari daerah konflik? Mereka tidak memiliki keistimewaan layaknya atlet pada umumnya. Alih-alih dapat mewakili negaranya, mereka justru harus mengungsi untuk menghindari peperangan.

Mengikuti ajang Olimpiade menjadi sesuatu hal yang mustahil bagi atlet-atlet malang ini. Berpentas dan meraih medali telah menjadi mimpi yang tidak dapat mereka raih.

Sebut saja salah satunya adalah atlet tinju dari daerah Afganistan, Farid Walizadeh. Petinju berumur 22 tahun ini mengaku sangat bahagia karena dapat terpilih untuk merealisasikan mimpinya berpentas di Olimpiade.

“Ketika saya berusia sembilan tahun, saya sudah dipenjara karena datang ke Eropa dengan cara yang ilegal. Dan kehidupan semakin sulit. Namun, saat kecil, saya melihat sisi positif dan saya menggambar dan melukis untuk menghabiskan waktu karena setiap kegelapan pasti ada cahaya. Setiap datangnya malam, esoknya pasti ada cahaya yang kembali,” ucapnya dikutip dari olympics.com.

Kemudian ada pula pelari 800 meter yang berasal dari Sudan Selatan, Chajeng Dan Yien. Atlet ini berhasil terpilih ke dalam tim pengungsi di Olimpiade Tokyo 2020 setelah termotivasi oleh kehadiran tim tersebut di ajang Olimpiade sebelumnya.

“Saya melihat mereka di TV dan berpikir mereka mampu menunjukkan banyak kepada dunia. Mereka menunjukkan bahwa pengungsi juga bisa melakukan apa pun. Mereka memberikan hasil. Mereka memperlihatkan bahwa jika kamu mencoba sesuatu, maka kamu akan sukses dan tidak ada yang bisa menghentikan kamu,” ucap Chajeng.

Bukan tanpa alasan Komite Olimpiade Internasional (IOC) kembali menghadirkan tim pengungsi di ajang berskala besar ini. Hal ini semata dilakukan karena alasan keadilan. IOC ingin semua atlet mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpentas di Olimpiade.

“Atlet ini tidak hanya merepresentasikan diri mereka sendiri atau pun IOC, tetapi juga semua pengungsi di dunia. Jadi ayo kita bawa tali persaudaraan karena pada dasarnya kita adalah orang-orang yang saling bersaudara. Bahasa universal kita adalah olahraga, jadi mari kita bawa kebahagiaan,” ucap Tegla Lorouoe selaku Chef de Mission tim Olimpiade Pengungsi.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?