F1

Monako Disarankan Lakukan Perombakan demi Bertahan di F1

DBasia.news – Monako diklaim sebagai aset paling berharga untuk Formula 1. Kendati demikian, sirkuit jalan raya tersebut didorong untuk melakukan perubahan agar terus eksis dalam kalender F1.

Circuit de Monaco menjadi tuan rumah balapan sejak 1929. Deretan yacht, pesta yang digelar di berbagai sudut kota dan kehadiran para pesohor maupu orang kaya kelas dunia membuat Grand Prix Monako identik dengan kemewahan dan gengsi

Lintasan sejauh 3,337 km tidak terlalu lebar seperti karakter khas trek jalan raya. Perubahan ketinggian, tikungan sempit dan terowongan menyuguhkan tantangan tersendiri.

Pembalap kesulitan menyalip sehingga dituntut tampil apik dalam kualifikasi. Mereka juga tak bisa terlalu agresif dan melakukan banyak kesalahan karena ukuran mobil lebih besar tidak diimbangi dengan lebar jalanan.

Monako berada di ambang akhir kontrak dan mereka sedang dalam negosiasi dengan Formula 1. Karena terkesan membosankan dan tak sesuai dengan tren yang berkembang, banyak yang memprediksi kalau trek tersebut akan ditinggalkan. Apalagi ada beberapa lintasan baru yang menjamin duel kompetitif.

Pendapat tersebut bertolak belakang dengan keinginan para pembalap. Max Verstappen dan kawan-kawan berharap lomba tersebut dipertahankan.

Sementara itu, dua bos tim berharap penyelenggaran GP Monako juga melakukan penyesuaian tata letak, tak hanya mengandalkan sisi historis.

Bahkan, prinsipal Red Bull Racing, Christian Horner, dengan ketus mengungkapkan seandainya Circuit de Monaco adalah tuan rumah baru, maka tak mungkin dilirik.

“Tak mungkin membayangkan Formula 1 tanpa Monako, itu seperti batu permata. Tapi sejalannya waktu, semua harus berkembang,” ujarnya.

“Anda tahu betapa tradisi dihormati di Wimbledon, tapi mereka sekarang memasang atap untuk melindungi lapangan ketika hujan. Anda perlu bertumbuh seiring dengan olahraga.

“Saya kira kalau trek di Monako baru dan mereka menginginkan satu tempat dalam kalender dan berkata, ‘Kami akan membayar setidaknya, tapi mustahil menyalip di trek’, kemudian mereka tak akan pernah masuk ke kalender.

“Kami siap menerima semua kekurangan Monako karena warisan dan sejarahnya. Namun, saya pikir mereka juga harus berusaha untuk berkembang.

“Jika Anda menghitung mundur, Anda akan jatuh ke belakang. Itu berlaku untuk semua aspek dalam olahraga kita.”

Pendapat senada diutarakan pemimpin Alfa Romeo, Frederic Vasseur. Ia mencontohkan Zandvoort yang melakukan pembangunan dan perubahan tata letak ketika kembali menjamu F1 GP Belanda. Tribune yang dipenuhi warna oranye terlihat untuk mendukung local hero, Max Verstappen.

Modernisasi trek tersebut seharusnya bisa menginspirasi penyelenggara GP Monako. Apalagi mereka punya Charles Leclerc di grid.

“Saya kira F1 mengalami perubahan besar tahun lalu di Zandvoort. Bukan hanya dari sisi pertunjukan saja,” ucapnya.

“Dari segi pertunjukan, Zanvoort merupakan perubahan besar tapi dari tanggal-tanggal ini, saya kira semua event lebih ke arah ini dan setiap orang akan mengikuti pergerakan.

“Tapi, pada akhirnya, bukan hanya pertunjukan, tapi semua di sekitar Grand Prix. Saya kira Monako akan melakukan hal serupa.

“Pastinya, Monako penting bagi kami. Kami tahu bahwa itu Grand Prix bersejarah. Namun pada akhirnya, itu akan datang dari mereka karena mereka tak bisa tetap kuno.

“Saya tidak hanya memikirkan tentang Monako, tapi itu pelajaran bagus untuk semua Grand Prix.”