DBAsia News

Kisah Ramadan Seorang Doni Tata

Doni Tata


DBasia.news –  Banyak yang harus melalui bulan Ramadan jauh dari Tanah Air. Seperti yang pernah dialami pembalap motor, Doni Tata Pradita. Statusnya yang pernah mengikuti Kejuaraan Dunia Supersport sampai kelas Moto2, membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu di Eropa.

Pria kelahiran Sleman, 21 Januari 1990 ini menceritakan betapa beratnya perjuangan menjalani ibadah puasa di Eropa.

“Berat karena di Eropa, buka puasanya lebih lama. Bisa jam 9 malam. Imsaknya sendiri bisa mencapai pukul 5.30 pagi,” kata Doni Tata.

Berpuasa jauh dari keluarga dan di luar Indonesia, dipastikan membuat Doni Tata merindukan masakan Tanah Air. Oleh karena itulah, ia sampai harus memasak diri untuk sahur dan buka puasa.

“Biasanya saya tetap makan menu asal Indonesia. Kadang masak sendiri. Seperti nasi goreng, telur dadar campur ayam,” ungkap pembalap berusia 29 tahun ini.

Tidak hanya menjalankan ibadah puasa di Eropa, Doni Tata bahkan pernah berlebaran di Jerman dan Prancis pada tahun 2008 dan 2009.

“Kadang kalau di sana rindu Indonesia sama keluarga. Tapi sekarang di sini, justru rindu juga berpuasa di Eropa,” Doni Tata melanjutkan.*

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?