DBAsia News

Kisah Andy Murray yang Membuatnya Tak Boleh Dipandang Sebelah Mata

Andy Murray

DBasia.news – Karena alasan kondisi cedera pinggul yang belum kunjung membaik, ada kemungkinan, Andy Murray sudah gantung raket usai Australia Open, 14-27 Januari ini.

Terlepas dari muramnya karier tenis di penghujung karier, Murray telah mencatat banyak prestasi menakjubkkan sepanjang kariernya. Cukup melihat fakta ia pernah menempati posisi satu dunia.

Jangan lupakan pula catatannya ketika jadi juara event Grand Slam, US Open 2012. Di final, ia mengalahkan Novak Djokovic. Kala itu ia jadi petenis putra asal Inggris pertama yang merasakan titel juara Grand Slam sejak 1936.

Murray juga dua kali mengecap titel juara event Grand Slam kandangnya, Wimbledon. Dia meraihnya tahun 2013 dan 2016. Alhasil ia petenis Inggris pertama yang sukses juara dunia kali Wimbledon sejak Fred Perry tahun 1936.

Namanya tidak hanya cemerlang di level individu. Ketika membawa nama Inggris pada ajang multievent, Olimpiade, Murray juga punya statistik menakjubkan.

Tercatat, ia merupakan peraih medali emas nomor tunggal putra pada Olimpiade 2012 dan 2016. Sampai sekarang, Murray masih memegang rekor sebagai satu-satunya petenis yang merasakan medali emas Olimpiade sebanyak dua kali.

Jangan lupakan pula, Murray sosok paling berkontribusi saat Inggris juara turnamen beregu tenis paling bergengsi, Davis Cup tahun 2015. Kala itu, dalam 11 pertandingan ia dipercaya turun, Murray tidak pernah terkalahkan.

Gelar juara Davis Cup 2015 merupakan gelar pertama Inggris sejak 1936. Pada akhirnya, gelar Grand Slam milik Murray memang tidak sebanyak Roger Federer attau Rafael Nadal, namun petenis kelahiran Glasgow, Skotlandia, 15 Mei 1987 tersebut tetap masuk buku sejarah.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?