Ada yang Berbeda Saat CLS Jalani Dua Gim Kandang di Final ABL

CLS Knights Indonesia


DBasia.news –  Pemandangan berbeda terlihat di markas CLS Knights Indonesia, GOR Kertajaya, Surabaya, pada dua gim kandang final IBL 2018/2019, 8 dan 12 Mei. Ribuan kaus terpasang di setiap bangku penonton.

Adanya kaus tersebut bukan tanpa arti. Banyak makna dan perjuangan yang harus dilalui manajemen CLS Knights Indonesia untuk mewujudkan hal tersebut.

Pada dasarnya, kaus tersebut merupakan apresiasi kepada para penggemar CLS Knights Indonesia atau akrab disebut Knights Society. Loyalitas serta dukungan mereka yang membuat Brandon Jawato dkk. berada di partai final ABL 2018/2019.

CLS Knights Indonesia di awal musim sama sekali tidak diunggulkan. Pasukan Brian Rowsom bahkan sempat terseok-seok.

Terlebih, ini baru musim kedua CLS Knights Indonesia bermain di ABL. Di penampilan perdananya, juara IBL 2015/2016 itu bahkan gagal menembus playoff.

Ada pesan yang ingin diberikan manajemen CLS Knights Indonesia kepada para penggemarnya yakni Believe atau percaya. Kalimat tersebut tercetak jelas di setiap kaus yang dibagikan.

“Itu merupakan apresiasi buat fans. Dan selain apresiasi, dengan mereka pakai itu, saya harap jadi kebanggaan juga. Di baju itu kami tunjukkan, we believe. Dan we-nya itu ada bendera Indonesia. Kami tunjukkan bahwa sebagai warga Indonesia, kami bangga dengan tim ini,” ujar Managing partner CLS Knights Indonesia, Christopher Tanuwidjaja.

Rencana membuat kaus untuk fans ini juga terbilang mendadak. Selepas gim semifinal kontra Mono Vampire Thailand, Chritopher baru mengajukan ide ini.

Jeda yang mepet membuat pria yang akrab disapa Itop itu merasa kurang maksimal. Lamanya waktu produksi membuat bangku GOR Kertajaya tak bisa semuanya penuh dengan kaus.

“Ide itu mulai dari sejak kami masuk final. Begitu kami menang lawan Mono, dengan tim EO kami berpikir, apa yang kira-kira kami bisa kasih buat fans? Termasuk entertainment-nya, tambahan LED, tambahan lighting, termasuk musik dan lain-lain,” ujar Itop.

“Jadi, baju itu saya bersyukur bisa dilakukan. Karena last minute banget. Waktu itu kami dari menang gim ketiga sama Mono ada jeda dengan main di Singapura. Itu pun hampir tidak kejadian, tetapi akhirnya saya bersyukur itu bisa kejadian baju itu,” sambungnya.

Pembagian kaus untuk penggemar terbilang baru di Indonesia. Hal ini memang jamak dilakukan tim NBA, tetapi di tanah air, CLS Knights Indonesia boleh berbangga menjadi klub pertama yang melakukannya.

Inspirasi, sih, banyak. Dari tim NBA sudah banyak yang membagikan baju-baju seperti itu. Cuma di Indonesia belum pernah bagi-bagi sampai sebanyak ini. Belum pernah. Dan agak riskan juga. Kami degdegan,” ujar Itop.

“Namun, memang sayang, kami tidak bisa membuat ungu semua. Karena bahan ungu itu susah dapatnya. Akhirnya kami cuma dapat bahan ungu itu seribu dan kami bagi. Oke, seribu. Dibagi hanya di court-side buat dua hari. Yang lain putih semua. Putih diblok ungu di tengahnya,” tutur fans berat Los Angeles Lakers tersebut.

Gim keempat final ABL 2018/2019 sekaligus menjadi laga kandang terakhir CLS Knights Indonesia di GOR Kertajaya musim ini. Klub yang sudah berusia lebih dari 70 tahun itu menutup manis musim mereka dengan kemenangan 87-74 atas Singapore Slingers.

Kini, CLS Knights Indonesia hanya perlu satu kemenangan lagi untuk membuat kisah dongeng mereka berakhir manis. Kemenangan pada gim kelima atas Slingers, di OCBC Arena, Rabu (15/5) akan membuat mereka menjadi jawara ABL untuk pertama kalinya.*